Evolusi Sistem Pembiayaan JKN dan Urgency Transformasi ke iDRG
Sejak implementasi pada tahun 2014, pelaksanaan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia telah menempuh perjalanan yang panjang. Sebagai fondasi utama pembayaran pada fasilitas kesehatan tingkat lanjut, sistem Indonesia Case Base Groups (INA-CBGs) telah digunakan sebagai basis pembayaran prospektif. Namun, seiring dengan kompleksitas kasus medis dan dinamika biaya operasional rumah sakit, tantangan teknis mulai bermunculan.
Salah satu kritik utama terhadap sistem INA-CBG adalah kategori yang dianggap terlalu luas. Hal ini menyebabkan tindakan yang berbeda secara klinis dan penggunaan sumber daya, ternyata masuk dalam kelompok yang sama. Akibatnya, timbul perbedaan biaya di mana nilai klaim sering kali tidak mencerminkan penggunaan sumber daya medis yang sebenarnya di lapangan, terutama pada kasus dengan tingkat keparahan (Severity Level) yang tinggi.
Menanggapi isu ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memulai transformasi menuju Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG). Perubahan ini bukan hanya sekedar penggantian nama, tetapi juga perbaikan dalam logika pengelompokan untuk menjadi lebih tepat, transparan, dan adil. iDRG dirancang untuk memastikan bahwa setiap pasien dalam satu kelompok memiliki karakteristik klinis yang sama dan penggunaan sumber daya yang sebanding. Melalui forum ilmiah RMIK UPDATE yang diselenggarakan oleh Instalasi Rekam Medis RSUD Ajibarang, pemahaman mendalam tentang proses transisi ini menjadi fokus utama bagi para tenaga koder.
Membedah Struktur Teknis dan Logika iDRG
Struktur Kode Grup iDRG
Tidak seperti INA-CBG, iDRG menerapkan sistem kode grup yang sangat rinci untuk mencerminkan kondisi pasien secara menyeluruh. Sistem ini memfasilitasi pengumpulan data yang lebih terperinci, meliputi:
Major Diagnostic Category (MDC): Menunjukkan kategori diagnosis utama yang didasarkan pada sistem organ tubuh atau penyebab penyakit.
Disease Cluster (DC): Menunjukkan pengelompokan penyakit yang lebih spesifik di dalam satu MDC.
Patient Type Designation (PTD): Mengidentifikasi jenis layanan yang diterima pasien, yaitu Rawat Inap atau Rawat Jalan
Complexity Level (CL): Inilah komponen krusial yang membedakan tingkat keparahan. Kode ini mencerminkan apakah pasien memiliki komplikasi dan komorbiditas yang meningkatkan kompleksitas perawatan.
Perubahan Metodologi: Dari Top-Down ke Patient Level Costing (PLC)
Salah satu poin penting dalam transformasi dalam sistem iDRG adalah transisi metode perhitungan tarif. Selama ini, INA-CBG banyak menggunakan pendekatan Top-Down Costing yang cenderung membagi total biaya rumah sakit ke unit-unit terkecil.
iDRG mendorong penggunaan Patient Level Costing (PLC). Dengan PLC, biaya dihitung berdasarkan konsumsi sumber daya riil tiap pasien (obat, BHP, jasa medis, penunjang). Metode ini memberikan gambaran biaya yang lebih akurat sehingga Cost Weight yang dihasilkan benar-benar mencerminkan beban kerja rumah sakit. Sebagai contoh, pada kasus Ischemic Stroke, penggunaan metode PLC mampu menangkap variasi biaya yang jauh lebih tajam dibandingkan metode Top-Down ketika terdapat komplikasi sedang hingga berat.
Indonesian Coding Standard (ICS) sebagai Panduan Utama
Keberhasilan implementasi iDRG sangat bergantung pada akurasi dan konsistensi input data klinis oleh tenaga koder, sehingga penguasaan Indonesian Coding Standard (ICS) menjadi kompetensi yang wajib dimiliki. ICS merupakan pedoman teknis yang berfungsi menyeragamkan interpretasi diagnosis dan prosedur medis melalui penggunaan kode ICD-10 dan ICD-9-CM. Penerapan ICS bertujuan menciptakan standardisasi pengkodean untuk meminimalkan variasi dan subjektivitas, serta mengurangi potensi dispute klaim dengan BPJS Kesehatan. Melalui forum ilmiah RMIK UPDATE, dilakukan pembahasan rutin untuk menyelaraskan pemahaman teknis dengan praktik klinis, sehingga mendukung kualitas data kesehatan yang akurat dan akuntabel.
Mewujudkan Integritas Data dan Keadilan Pembiayaan
Transisi menuju iDRG adalah langkah besar dalam sistem jaminan kesehatan di Indonesia. Dengan logika yang lebih klinis dan transparan, iDRG diharapkan mampu memberikan perlindungan finansial yang lebih baik bagi rumah sakit sekaligus memastikan pasien mendapatkan pelayanan sesuai tingkat keparahannya.
Melalui forum edukasi seperti RMIK UPDATE, Instalasi Rekam Medis RSUD Ajibarang berkomitmen untuk terus mengasah ketajaman analisis para koder. Dengan pemahaman yang matang mengenai Indonesian Coding Standard (ICS) sebagai panduan kodefikasi klinis, visi "Koding Benar, Klaim Lancar" bukan sekadar slogan, melainkan standar kerja nyata demi pelayanan kesehatan yang berkelanjutan di RSUD Ajibarang.
Komentar (2)
Keren 🤩
Belajar bersama menuju standar baru layanan kesehatan!