Awesome Image
Dibaca Sebanyak

SINERGI RSUD AJIBARANG TANGGAP DI ALAM, SIGAP DALAM PELAYANAN

SINERGI RSUD AJIBARANG TANGGAP DI ALAM, SIGAP DALAM PELAYANAN
Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-19 RSUD Ajibarang, diperlukan suatu kegiatan
yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam peningkatan
kompetensi dan kapasitas sumber daya manusia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
melalui kegiatan yang menggabungkan aspek kebersamaan, kesehatan, serta kesiapsiagaan dalam
menghadapi kondisi kegawatdaruratan, khususnya di lingkungan alam terbuka. Berdasarkan Surat
Tugas Direktur RSUD Ajibarang Nomor: B/000.1.2.3/2367/IV/2026, ditetapkan bahwa salah satu
kegiatan yang relevan untuk dilaksanakan adalah Pendakian Bersama dan Edukasi
Penanganan Hipotermia serta Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang diselenggarakan oleh
BAPORSENI RSUD Ajibarang, yang tergabung dalam Tim Tracking Mountain RSUD Ajibarang,
bertempat di Gunung Merbabu via Thekelan, dengan mengusung tema: “Sinergi RSUD
Ajibarang, Tanggap di Alam, Sigap dalam Pelayanan”. Tema tersebut menggambarkan semangat
kebersamaan seluruh insan RSUD Ajibarang dalam membangun kekuatan tim yang harmonis
(sinergi), dan kesiapsiagaan serta kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi tidak hanya
dalam lingkungan kerja tetapi juga dalam menghadapi tantangan di alam.
Apa itu Hipotermi dan mengapa bisa terjadi?
Pendakian gunung memiliki risiko tersendiri, salah satunya adalah Hipotermia, yaitu keadaan
dimana suhu tubuh berada di bawah batas normal fisiologis, karena kegagalan termoregulasi.
Termoregulasi merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu lagi menjaga suhu inti tetap stabil,
sehingga terjadi ketidakseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas. Akibatnya, suhu
tubuh bisa turun (hipotermia) atau naik (hipertermia). Faktor-faktor yang bisa menyebabkan
Hipotermi antara lain adalah:
Berada terlalu lama di cuaca dingin, cuaca berangin
Kelelahan atau kurangnya aktivitas
Mengenakan pakaian tipis atau basah saat cuaca dingin, serta terjatuh/berendam di air
dingin
Diabetes, hipotiroidisme, stroke, dan penyakit Parkinson
Kurang asupan energi
Alkohol dan obat-obatan tertentu
Tanda, Gejala dan Penanganan Hipotermia
Mengenali tanda dan gejala Hipotermia menjadi sangat penting ketika berkaktivitas di alam
terbuka, oleh karena itu diperlukan pemahaman dalam mengenali serta penangannya.
Tanda dan gejala umum pada hipotermia menggigil hebat, bicara cadel, gerakan lambat/kaku,
kebingungan (penurunan kesadaran)
1) Hipotermia ringan, suhu antara 32-25° C, akan menggigil hebat
2) Hipotermia sedang, suhu antara 28-32°C, terjadi penurunan konsumsi oksigen oleh sistem
syaraf.
3) Hipotermia berat, suhu tubuh <28°C, rentan mengalami fibrilasi artikuler dan rentan koma,
Penanganan hipotermia harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Langkah awal yang dapat
dilakukan antara lain memindahkan korban ke tempat yang lebih aman dan hangat, mengganti
pakaian basah, memberikan minuman hangat, serta menghangatkan tubuh korban secara
bertahap. Kontak langsung antar tubuh juga dapat membantu meningkatkan suhu tubuh korban.
Hal yang perlu dihindari adalah memijat tubuh korban secara kasar karena dapat memperburuk
kondisi.Hipotermi bisa dicegah?
Kegiatan di alam terbuka memerlukan kondisi fisik dan persiapan yang baik, Persiapan yang
harus dilakukan mencegah kejadian Hipotermi antara lain:
Kenakan pakaian berlapis
Gunakan pelindung kepala dan sarung tangan
Konsumsi makanan dan minuman hangat
Hindari duduk langsung di tanah
Segera cari tempat berlindung dari cuaca buruj
Jangan biarkan pakaian basah terlalu lama
Selain hipotermia, kondisi kegawatdaruratan lain yang dapat terjadi adalah henti napas dan henti
jantung. Dalam situasi ini, Bantuan Hidup Dasar (BHD) menjadi tindakan penyelamatan
pertama yang sangat menentukan. BHD dilakukan dengan prinsip utama memastikan keamanan
penolong, korban, dan lingkungan, kemudian mengecek respons korban, meminta bantuan, serta
melakukan resusitasi jantung paru (RJP).
Teknik BHD meliputi kompresi dada dengan kecepatan 100–120 kali per menit, dengan
kedalaman 5–6 cm, serta perbandingan 30 kompresi dan 2 bantuan napas. Tindakan ini dilakukan
secara berulang hingga korban menunjukkan tanda kehidupan atau bantuan medis datang.
Ketepatan dan kecepatan dalam melakukan BHD sangat berpengaruh terhadap peluang
keselamatan korban.
Melalui kegiatan ini, RSUD Ajibarang menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas
sumber daya manusia yang tidak hanya unggul di lingkungan pelayanan kesehatan, tetapi juga
tanggap dalam situasi darurat di berbagai kondisi, termasuk di alam terbuka. Edukasi yang
diberikan diharapkan mampu membentuk tenaga kesehatan yang sigap, terampil, dan siap
menghadapi tantangan di lapangan.
Kegiatan pendakian ini juga menjadi simbol semangat kebersamaan, ketanggapan, dan kepedulian
antar sesama. Dengan mengusung tema “Sinergi RSUD Ajibarang Tanggap di Alam, Sigap dalam
Pelayanan”, diharapkan seluruh peserta mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam
kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja maupun di masyarakat.
Pada akhirnya, kegiatan ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak, tetapi juga perjalanan dalam
meningkatkan kompetensi, kepedulian, dan kesiapsiagaan. Karena sejatinya, tenaga kesehatan
tidak hanya dituntut untuk profesional di dalam rumah sakit, tetapi juga siap memberikan
pertolongan kapan pun dan di mana pun dibutuhkan.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar