Awesome Image

Syok Hipovolemik pada Fraktur Terbuka Femur Dextra: Penanganan Awal di Instalasi Gawat Darurat

Syok hipovolemik pada fraktur, terutama fraktur femur, terjadi akibat perdarahan masif yang menyebabkan penurunan volume intravaskular sehingga menurunkan curah jantung dan perfusi jaringan. Kondisi ini memicu hipoksia seluler yang berujung pada metabolisme anaerob dan produksi asam laktat sehingga timbul asidosis metabolik. Penatalaksanaan bersifat emergensi dengan prinsip resusitasi cairan dan transfusi darah, menjaga jalan napas dan oksigenasi, serta kontrol sumber perdarahan, termasuk stabilisasi fraktur (Rosita & Hibahtulloh, 2024).

 

Syok merupakan keadaan ketika sel mengalami hipoksia sehingga terjadi ketidakseimbangan antara oksigen yang diedarkan ke seluruh tubuh dan oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini sering disebabkan karena penurunan perfusi jaringan dan kegagalan sirkulasi (Simmons and Ventetuolo, 2017). Syok hipovolemik adalah kondisi syok yang terjadi akibat penurunan volume cairan plasma dalam ruang intravaskular. Keadaan ini dapat disebabkan oleh perdarahan masif (hemoragik), trauma yang mengakibatkan perpindahan cairan ke ruang ekstravaskular. Penyebab yang paling sering dari syok hipovolemik adalah perdarahan sehingga kondisi ini juga sering disebut sebagai syok hemoragik. Perdarahan berat dapat terjadi akibat trauma serius pada organ tubuh, fraktur yang disertai luka maupun cedera langsung pada pembuluh arteri besar.

 

Gambaran Kasus

Tn. A usia 30 tahun datang ke IGD setelah mengalami kecelakaan lalu lintas saat mudik 20 menit SMRS. Pasien merupakan pengendara motor, ditemukan di lokasi kejadian dengan kondisi sadar dengan helm yang masih terpasang. Pasien mengingat kejadian bahwa saat sedang menyalip sebuah truk tiba-tiba kendaraannya mengenai lubang dan kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Pasien sadar terus dan mengingat bahwa kaki kanannya terbentur badan truk lalu menjadi sangat nyeri dan tampak banyak darah keluar. Pasien terlempar ke bahu jalan dengan tangan kanan dan dada kanan terbentur jalan. Saat datang mengeluhkan nyeri paling hebat pada kaki kanan disertai perdarahan, skala nyeri dikatakan 9. Kaki kanan sulit digerakkan karena sangat nyeri, jari-jari kaki masih dapat merasakan sentuhan dan dapat digerakkan. Keluhan lain berupa nyeri pada tangan kanan, masih dapat digerakkan dan merasakan rabaan. Dada kanan terasa nyeri pada lokasi yang terbentur. Tidak ada nyeri hebat di anggota tubuh lainnya. Tidak ada nyeri kepala, mual, atau muntah. Pasien tidak mengalami sesak napas saat datang. Tidak ada keluhan berkemih.

 

Pemeriksaan di IGD

Pada saat triase, pasien dikategorikan sebagai triase merah berdasarkan kondisi hemodinamik yang tidak stabil. Pemeriksaan tanda vital menunjukkan tekanan darah 80/45 mmHg, nadi 130 kali per menit, laju napas 28 kali per menit, serta saturasi oksigen 98% pada udara ruangan. Selain itu, ditemukan tanda-tanda hipoperfusi berupa akral dingin dan capillary refill time (CRT) lebih dari 2 detik, yang mengarah pada kondisi syok.

Pendekatan primary survey (ABCDE) kemudian dilakukan secara sistematis. Pada penilaian airway (A), jalan napas dalam kondisi paten, pasien masih mampu berbicara dengan baik, dan tidak ditemukan tanda obstruksi jalan napas. Pada aspek breathing (B), pasien tampak mengalami takipnea dengan frekuensi napas meningkat, namun saturasi oksigen masih dalam batas normal. Pengembangan dada tampak simetris, meskipun terdapat jejas pada dinding dada kanan. Pemeriksaan auskultasi tidak menunjukkan adanya ronki maupun wheezing. Sebagai penatalaksanaan awal, pasien diberikan suplementasi oksigen menggunakan non-rebreathing mask.

Pada penilaian circulation (C), ditemukan tanda-tanda syok berupa hipotensi dan takikardia, dengan estimasi kehilangan darah mencapai 1500–2000 mL. Pada ekstremitas kanan bawah tampak luka terbuka di regio femur dengan bentuk tidak teratur (laceratum), berukuran sekitar 10 × 3 × 5 cm, dengan tampakan jaringan otot dan fragmen tulang, disertai perdarahan aktif, kontusio, serta pembengkakan jaringan sekitar. Penatalaksanaan awal yang dilakukan meliputi pemasangan dua jalur intravena berukuran besar, resusitasi cairan kristaloid secara cepat (20–40 cc/kgBB/jam), pemasangan balut tekan steril untuk mengontrol perdarahan, imobilisasi ekstremitas dengan bidai, serta pemasangan kateter urin untuk memantau diuresis.

Pada penilaian disability (D), tingkat kesadaran pasien adalah GCS E3V4M6, dengan pupil isokor dan refleks cahaya baik, serta tidak ditemukan defisit neurologis fokal. Selanjutnya, pada tahap exposure (E) dilakukan pemeriksaan menyeluruh, ditemukan luka tambahan pada area wajah serta jejas pada dada kanan, dengan suhu tubuh pasien dalam batas normal.

Penatalaksanaan di IGD

Penatalaksanaan pada pasien ini difokuskan pada stabilisasi hemodinamik dan kontrol perdarahan. Resusitasi cairan dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid secara cepat untuk meningkatkan volume intravaskular dan memperbaiki perfusi jaringan. Upaya kontrol perdarahan dilakukan melalui pemasangan balut tekan pada luka, imobilisasi ekstremitas yang mengalami cedera, serta elevasi tungkai untuk membantu mengurangi aliran perdarahan. Selain itu, diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik profilaksis ceftriaxone untuk mencegah infeksi, analgesik ketorolac untuk mengurangi nyeri, serta ranitidin sebagai proteksi lambung. Selama penatalaksanaan, dilakukan monitoring ketat terhadap kondisi pasien yang meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, laju napas, status mental, serta produksi urin dengan target minimal ≥0,5 cc/kgBB/jam sebagai indikator adekuatnya perfusi ginjal.

Tatalaksana awal pasien dengan syok hipovolemik akibat fraktur terbuka femur harus mengikuti prinsip primary survey terbaru yang terdiri atas eXsanguination external hemorrhage, Airway, Breathing, Circulation, Disability, and Exposure (xABCDE) sebagaimana direkomendasikan dalam pedoman trauma Advanced Trauma Life Support (ATLS) edisi ke-11 tahun 2025. Penilaian dan stabilisasi exsanguination, airway, breathing, circulation, disability, dan exposure dilakukan secara simultan untuk mencegah perburukan kondisi hemodinamik dan hipoksia jaringan (American College of Surgeons, 2025).

  1. Tatalaksana Umum

    a) Stabilisasi Jalan Napas dan Ventilasi

    Pada tahap airway, jalan napas harus dipastikan paten, dan bila diperlukan dilakukan proteksi jalan napas dengan intubasi endotrakeal, terutama pada pasien dengan penurunan kesadaran. Pada pasien ini tidak terjadi penurunan kesadaran, sehingga belum diperlukan intubasi dan bisa diberikan oksigenasi melalui nasal kanul atau NRM. Selanjutnya, pada breathing, diberikan oksigen suplementasi dengan target saturasi >94% untuk mengoptimalkan penghantaran oksigen ke jaringan (Arief & Subekti, 2023).

     

    b) Resusitasi Cairan dan Stabilisasi Hemodinamik

    Pada kasus ini fokus utama adalah resusitasi cairan dan kontrol perdarahan. Kehilangan darah akibat fraktur terbuka femur dapat mencapai volume besar sehingga memicu syok hemoragik. Resusitasi awal menggunakan cairan kristaloid isotonic (misalnya Ringer laktat atau NaCl 0,9%) diberikan secara cepat untuk meningkatkan volume intravaskular. Namun, pada perdarahan masif, strategi modern menekankan early blood transfusion dan pendekatan damage control resuscitation untuk mencegah dilusi koagulopati. Pengendalian sumber perdarahan, baik melalui tindakan bedah (debridement, fiksasi eksternal) maupun penekanan langsung, merupakan bagian krusial terapi definitif (Arief & Subekti, 2023; Junaidi et al., 2023). Stabilisasi hemodinamik dilakukan dengan monitoring ketat tanda vital, produksi urin, dan status mental. Target terapi meliputi tekanan darah adekuat dan perfusi organ yang baik. Target terapi cairan pada pasien syok adalah mempertahankan urine output minimal 0,5 mL/kgBB/jam pada dewasa (Saputra et al., 2021).

     

    c) Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi

    Pemenuhan nutrisi pada pasien ICU pasca ORIF fraktur femur merupakan bagian integral dari terapi suportif yang bertujuan untuk mengurangi katabolisme, mempercepat penyembuhan luka, dan menurunkan morbiditas. Pada kondisi trauma dan syok, tubuh mengalami respons hipermetabolik dan hiperkatabolik sehingga kebutuhan energi dan protein meningkat signifikan. Oleh karena itu, pedoman terkini seperti ESPEN dan SCCM/ASPEN merekomendasikan bahwa semua pasien ICU harus menjalani penilaian risiko nutrisi dalam 24 jam pertama dan perencanaan terapi nutrisi dalam 48 jam setelah stabilisasi hemodinamik (Singer et al., 2023; Williams & Yeh, 2024).

     

  2. Tatalaksana Medikamentosa

    a) Antibiotik

    Pada pasien ini diberikan injeksi ceftriaxon 2 gr/24 jam sebagai antibiotik profilaksis. Tatalaksana medikamentosa pada syok hipovolemik akibat fraktur terbuka femur meliputi terapi antibiotik, analgesik, dan sedasi sebagai bagian dari manajemen komprehensif trauma. Antibiotik empiris spektrum luas harus segera diberikan pada fraktur terbuka untuk mencegah infeksi, terutama terhadap bakteri gram positif dan negatif. Regimen yang sering digunakan adalah kombinasi sefalosporin generasi pertama (misalnya cefazolin) dengan tambahan aminoglikosida pada luka berat atau kontaminasi tinggi, sesuai prinsip pencegahan infeksi pada trauma terbuka.

     

    b) Analgesik

    Pada pasien diberikan ketorolac 30 mg IV setiap 8 jam serta morfin 1 mg/jam. Analgesik diberikan untuk mengontrol nyeri yang signifikan akibat fraktur. Opioid seperti morfin atau fentanyl sering digunakan karena efektivitasnya dalam nyeri berat, namun harus diberikan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan depresi napas dan hipotensi, terutama pada pasien syok. Oleh karena itu, titrasi dosis dan monitoring ketat sangat diperlukan.

     

    c) Sedasi

    Sedasi dapat diberikan pada pasien dengan agitasi atau untuk memfasilitasi tindakan invasif seperti intubasi atau prosedur bedah. Obat seperti midazolam atau propofol dapat digunakan, dengan perhatian khusus terhadap efek hemodinamiknya. Pada kondisi syok berat, penggunaan obat sedatif harus disesuaikan untuk menghindari penurunan tekanan darah lebih lanjut (Taghavi et al., 2025).

     

  3. Tatalaksana Non-Medikamentosa

    a) Perawatan Luka

    Perawatan luka pada fraktur terbuka femur merupakan bagian penting dari tatalaksana non-medikamentosa yang bertujuan untuk mengontrol perdarahan dan mencegah infeksi. Pada fase awal, dilakukan kontrol perdarahan eksternal dengan penekanan langsung, balut tekan, atau penggunaan tourniquet bila diperlukan. Setelah kondisi hemodinamik relatif stabil, luka harus dilakukan irigasi dan debridement dini untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan kontaminan, sesuai prinsip damage control surgery. Imobilisasi ekstremitas dengan bidai atau fiksasi eksternal juga diperlukan untuk mengurangi perdarahan lanjutan, nyeri, dan kerusakan jaringan lebih lanjut. Penanganan definitif berupa debridement operatif dan stabilisasi tulang menjadi kunci untuk mencegah komplikasi infeksi dan memperbaiki perfusi jaringan lokal (Arief & Subekti, 2023; Saputra et al., 2024).

     

    b) Monitoring Klinis

    Monitoring klinis merupakan komponen esensial dalam tatalaksana non-medikamentosa syok hipovolemik. Evaluasi dilakukan secara kontinu terhadap tanda vital seperti tekanan darah, frekuensi nadi, laju napas, suhu, serta status mental pasien. Selain itu, parameter perfusi perifer seperti capillary refill time, warna kulit, dan suhu ekstremitas juga penting untuk menilai keberhasilan resusitasi. Pendekatan modern menekankan bahwa monitoring tidak boleh hanya mengandalkan satu parameter, melainkan kombinasi indikator klinis dan penunjang seperti laktat atau ultrasonografi bedside (POCUS) untuk menilai respons terhadap terapi. Pemantauan berkala ini diperlukan untuk menentukan apakah pasien termasuk responder atau non-responder terhadap resusitasi cairan dan untuk mengarahkan terapi selanjutnya (Taghavi et al., 2025).

     

    c) Pemantauan Urine Output

    Evaluasi urine output dengan target ≥ 0,5 mL/kgBB/jam dilakukan untuk menilai kecukupan resusitasi cairan serta perfusi ginjal pada pasien syok hemoragik. Nilai di bawah target menunjukkan adanya hipoperfusi atau resusitasi yang belum adekuat (Taghavi et al., 2025).

     

    Kesimpulan

Fraktur terbuka femur merupakan trauma berat yang sering disertai perdarahan masif sehingga berisiko menyebabkan syok hipovolemik melalui penurunan preload, curah jantung, dan perfusi jaringan. Pendekatan primary survey (ABCDE) memungkinkan identifikasi cepat kondisi yang mengancam nyawa serta penatalaksanaan yang sistematis, dengan fokus utama pada stabilisasi sirkulasi melalui resusitasi cairan dan kontrol perdarahan. Resusitasi yang adekuat harus disertai monitoring ketat untuk menilai respons terapi, serta pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi pada fraktur terbuka. Dengan demikian, syok hipovolemik akibat fraktur terbuka femur merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan cepat dan tepat di IGD, meliputi resusitasi cairan, kontrol perdarahan, imobilisasi, dan pemantauan ketat, yang berperan penting dalam menentukan outcome pasien.

 

Daftar Pustaka

American College of Surgeons. 2025. Advanced Trauma Life Support: Student Course Manual. 11th ed. Chicago, IL: American College of Surgeons.

Arief, M.H. & Subekti, B. 2023. Tatalaksana Syok Hipovolemik pada Perdarahan Akut. Jurnal Penelitian Perawat Profesional. 5(4), pp. 1763–1770.

Junaidi, A.H. et al. 2023. Studi Literatur Tindakan Resusitasi Cairan pada Pasien Perdarahan dengan Syok Hipovolemik. Diagnosis Jurnal Ilmiah Kesehatan. 17(4), pp. 136–145.

Saputra, D.N., Rahman, A. & Sutanto, B. 2021. Tatalaksana Syok Hipovolemik pada Perdarahan Intraabdominal. Prosiding CME.

Simmons, J. and Ventetuolo, C. 2017. Shock. In: Parrillo, J.E. and Dellinger, R.P. (eds.) Critical Care Medicine: Principles of Diagnosis and Management in the Adult. 5th ed. Philadelphia: Elsevier, pp. 323–336.

Taghavi, S., Nassar, A.K. and Askari, R. 2025. Hypovolemia and hypovolemic shock. In: StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar