Awesome Image

PENGAJIAN MENYAMBUT HUT-19 MENGHIDUPKAN HATI

MENGHIDUPKAN HATI

Oleh; Igun Winarno

Hari ini aku berangkat dari rumah dengan niat menghadiri pengajian dalam rangka memperingati HUT ke-19 RSUD Ajibarang. Pagi itu suasana masih sepi; aku pun singgah di kantin sebelah Masjid Baitusyfa untuk menunggu waktu dimulai. Seperti biasa, secangkir kopi kupesan untuk menemani, sambil menikmati jeda pagi yang tenang. Tak kusangka, di sana aku berpapasan dengan Pak Direktur yang rupanya juga sedang sarapan sembari menanti acara dimulai—sebuah pertemuan sederhana yang terasa hangat dan penuh makna.

Waktu pun berjalan. Ketika pengajian dimulai, aku memilih duduk di bagian belakang, mencoba merangkum dan menuliskan poin-poin yang disampaikan. Kajian pagi itu dibawakan oleh Ustadz Umaier Khaz dengan bahasa yang menyejukkan dan menggugah. Tanpa terasa, dua jam berlalu begitu saja; seakan waktu menyempit karena hati larut dalam nasihat-nasihat yang menghidupkan jiwa.

Majelis ilmu adalah salah satu wahana terbesar bagi lahirnya kebaikan dalam kehidupan seorang hamba. Dalam sebuah hadits Rasulullah disebutkan bahwa ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang tersusun rapi; yang saling mengenal akan saling menyatu, dan yang tidak sejalan akan saling menjauh. Ungkapan ini mengajarkan bahwa pertemuan manusia tidak hanya terjadi pada jasad, tetapi juga pada ruh dan fitrah yang Allah tanamkan dalam diri masing-masing. Karena itu, terkadang seseorang merasa mudah akrab dengan orang lain tanpa sebab yang jelas, atau justru merasa berat tanpa konflik nyata. Dalam konteks iman, ruh yang hidup dan bersih akan cepat “menyambut” kebenaran, merasa nyaman berada di majelis ilmu, dan lapang menerima nasihat, sementara hati yang jauh dari Allah akan terasa asing terhadap kebaikan. Dari sinilah kita diajak untuk bermuhasabah: apakah ruh kita siap menyambut hidayah, atau masih perlu dibersihkan agar semakin dekat kepada-Nya.

Hidup memang penuh pilihan, tetapi tetap berada dalam ketentuan Allah melalui qadhā’ dan qadar-Nya; di situlah seorang hamba diuji apakah ia memilih jalan yang diridhai atau justru berpaling darinya. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini menunjukkan bahwa dorongan untuk menghadiri majelis ilmu, semangat mengaji, dan kerinduan untuk memahami agama bukanlah kebetulan, melainkan tanda bahwa Allah sedang menghendaki kebaikan bagi seorang hamba.

Dengan mengaji, mata hati menjadi lebih peka dalam mengenali kebaikan dan amal saleh sehingga perilaku sehari-hari pun semakin selaras dengan tuntunan Islam. Sebagai buah dari proses belajar itu, seorang muslim dibiasakan memulai minum dengan menyebut nama Allah, mengakhirinya dengan ucapan alhamdulillāh, tidak meniup minuman yang panas, serta melakukannya dengan tenang dan beradab—sebagaimana dicontohkan Nabi dalam berbagai riwayat tentang adab makan dan minum. Kebiasaan-kebiasaan sederhana ini melatih kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari agar setiap perbuatan bernilai ibadah dan rasa syukur kepada Allah.

Lebih dari itu, Rasulullah memberikan kabar gembira bagi para penuntut ilmu melalui sabdanya, “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Karena itu, setiap langkah menuju majelis ilmu—meskipun terasa berat, jauh, atau melelahkan—hakikatnya sedang mengantar seorang hamba mendekati rahmat dan kemuliaan Allah, sekaligus meneguhkan keyakinan bahwa perjalanan mencari ilmu merupakan investasi abadi bagi kehidupan akhirat.

Maka jika ada undangan majelis ilmu, datangilah—perkara paham atau belum sepenuhnya itu dapat menyusul, sebab keberkahan telah mengalir sejak langkah pertama diniatkan karena Allah. Salah satu pesan utama dalam pengajian adalah tentang keutamaan berkumpul untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan mempelajarinya. Rasulullah menjelaskan bahwa di dalamnya terdapat keberkahan besar, di antaranya turunnya ketenangan ke dalam hati yang membuat jiwa menjadi fokus dan lapang. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “Maka barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia lapangkan dadanya untuk Islam” (QS. Al-An‘ām: 125), serta sabda Nabi , “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan…” (HR. Muslim).

Selain ketenangan, majelis ilmu juga menjadi tempat yang sangat disenangi para malaikat. Mereka diciptakan hanya untuk taat, sementara manusia memiliki pilihan antara taat dan membangkang; maka ketika seorang hamba memilih ketaatan dengan duduk di majelis ilmu, itulah yang menjadikannya dicintai di sisi Allah. Di sana pula turun rahmat dan keberkahan, terlebih ketika berkumpul dengan orang-orang saleh, karena nasihat mereka lebih menghidupkan hati dan menggerakkan untuk mengamalkan ilmu, bukan sekadar mencatatnya. Dalam berbagai kisah disebutkan bahwa persahabatan dengan orang-orang saleh dapat menjadi sebab seseorang memperoleh pertolongan dan kedudukan mulia di akhirat; karena itu, perbanyaklah silaturahim dengan orang-orang baik, sebab lingkungan yang saleh akan mengangkat derajat iman dan amal.

Lebih tinggi lagi, Rasulullah menyebutkan bahwa Allah sendiri menyebut-nyebut orang-orang yang berada di majelis ilmu di hadapan makhluk-makhluk yang ada di sisi-Nya. Ini menandakan bahwa hati yang hidup adalah hati yang peka terhadap pesan-pesan kebaikan, mudah tersentuh oleh nasihat, dan cepat bergerak menuju amal saleh. Kesehatan hati inilah yang sangat menentukan keselamatan seorang hamba, dan salah satu cara paling efektif untuk menjaganya adalah dengan terus menghadiri majelis ilmu, mendekat kepada Al-Qur’an, serta membersamai orang-orang saleh.

Beliau juga menekankan pentingnya nasihat kebaikan yang mengarahkan hidup seorang hamba, di antaranya bahwa siapa pun yang menjadikan amal akhirat sebagai prioritas, niscaya Allah akan mencukupkan urusan dunianya; siapa yang sungguh-sungguh memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah pula yang akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia; dan siapa yang membersihkan serta memperbaiki amalan hatinya—seperti niat, keikhlasan, dan tawakal—maka Allah akan memperbaiki pula amalan lahiriahnya berupa perilaku, tutur kata, dan tindakan sehari-hari. Rangkaian nasihat ini menegaskan bahwa perubahan sejati tidak bermula dari luar, melainkan dari dalam diri melalui kedekatan kepada Allah, sehingga seluruh aspek kehidupan perlahan ditata oleh-Nya menuju kebaikan.

Satu hal lagi yang sangat menarik dalam pengajian ini—dan sungguh menguatkan hati—adalah ketika kami diajak merenungi QS. Asy-Syams. Surah ini terasa begitu istimewa karena Allah Subānahu wa Ta‘ālā memulainya dengan rangkaian sumpah: demi matahari dan cahayanya, demi bulan, demi siang, demi malam, demi langit, demi bumi, hingga akhirnya Allah bersumpah demi jiwa manusia dan penyempurnaannya. Hal ini menunjukkan bahwa pesan yang akan disampaikan setelahnya merupakan perkara yang sangat besar, mendasar, dan menentukan arah hidup manusia.

Kemudian Allah berfirman pada ayat 7 sampai 10, “Dan demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” Ayat-ayat ini mengajarkan bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan di antara dua jalan: kefasikan dan ketakwaan. Setiap keputusan, sikap, dan pilihan—besar ataupun kecil—sedang mengarahkan kita ke salah satu jalur tersebut; di sanalah sesungguhnya persimpangan menuju keselamatan atau kerugian akhirat. Allah menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada harta, jabatan, atau popularitas, melainkan pada keberhasilan seseorang menyucikan jiwanya—membersihkan hati dengan iman, taubat, keikhlasan, dan amal saleh, serta menjauhkannya dari dosa, kesombongan, iri, dan kelalaian.

Inilah sebabnya perkara hati menjadi begitu penting, sampai-sampai Allah menguatkannya dengan sumpah berulang kali dalam satu surah. Seakan-akan Dia menanamkan pesan yang sangat dalam: perhatikan jiwamu, jaga hatimu, karena di sanalah masa depan akhiratmu sedang ditentukan. Maka tugas kita adalah merawat hati agar tetap hidup dengan kebaikan—menguatkannya dengan dzikir, menyuburkannya dengan Al-Qur’an, membersihkannya dengan taubat, dan meneguhkannya dengan amal saleh. Salah satu ikhtiar penting yang sering terlupa ialah mendatangi majelis ilmu, sebab di sanalah iman diperbarui, hati dilunakkan, dan arah hidup diluruskan kembali.

Menjelang penutupan, muncul pula pertanyaan yang menyentuh tentang doa: mengapa terkadang hati terasa kering ketika berdoa dan air mata sulit mengalir? Di sinilah hikmahnya memahami bahwa doa bukan sekadar permintaan, tetapi sarana melembutkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. Allah telah menetapkan qaā’ dan qadar-Nya, dan ketika kita berdoa, kita menegaskan keyakinan bahwa hanya Dia yang memberi. Kalaupun permohonan kita tampak belum dikabulkan, seorang mukmin tetap yakin bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik; tugas kita adalah bersyukur dan mengucapkan alhamdulillāh atas segala ketentuan-Nya.

Sering pula muncul pertanyaan lain, “Mengapa ada orang yang masih muda dan kaya raya tetapi terlihat lalai dalam salat?” Pertanyaan ini penting karena menyentuh cara kita memahami rezeki dan hubungan antara ibadah dengan kehidupan dunia. Jawabannya: bisa jadi seseorang kaya secara materi, tetapi belum tentu kaya secara ukhrawi. Kita tidak pernah mengetahui keadaan hatinya, kualitas ibadahnya, atau nilai amalnya di sisi Allah. Di sinilah letak kerugian yang sesungguhnya—ketika seseorang tampak berhasil di dunia, tetapi miskin dalam hubungannya dengan Rabb-nya; dunia boleh penuh, namun akhirat kosong.

Karena itu, dalam beragama kita diajarkan untuk selalu berbaik sangka kepada Allah (usnuzan billāh). Sikap ini bukan berarti mengabaikan kewajiban ibadah, melainkan justru menegaskan keimanan kita kepada qaā’ dan qadar-Nya, bahwa setiap ketentuan Allah mengandung hikmah meskipun belum selalu kita pahami. Pada saat yang sama, pertanyaan-pertanyaan seperti ini seharusnya tidak membuat kita sibuk menilai orang lain, melainkan mengajak kita bercermin: bagaimana salat kita, bagaimana hubungan kita dengan Allah, dan bagaimana kualitas amal kita selama ini. Sebab yang paling menentukan bukanlah seberapa banyak yang kita miliki di dunia, melainkan bagaimana keadaan hati kita ketika kelak menghadap Allah.

Waktu pun terus berjalan. Ketika jarum jam menunjukkan pukul sebelas, aku terpaksa meninggalkan acara sebelum penutupan. Aku tidak sempat menunggu hingga salam terakhir dari ustadz. Namun dalam hati aku berdoa dan berujar, “Ustadz, perkenalkan saya Igun Winarno. Jika kelak ustadz—dengan izin Allah—masuk surga lebih dahulu sebagai seorang yang saleh, jangan lupa memanggil saya agar segera menyusul. Alhamdulillah, saya pernah menjadi salah satu jamaah dalam pengajian ustadz.”

Pengajian itu berakhir dengan penuh rasa syukur. Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih kepada Direktur serta seluruh panitia HUT ke-19 RSUD Ajibarang atas terselenggaranya majelis ilmu yang begitu menenangkan dan menguatkan hati. Semoga acara seperti ini terus berlanjut dan menjadi sebab bertambahnya iman, ilmu, serta amal bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Penulis
Igun Winarno

Komentar (3)

Meilalin Siswanti 1 minggu yang lalu

MasyaaAllah

fachrudin 1 minggu yang lalu

MasyaAlloh...Alkhamdulillah

Omar 1 minggu yang lalu

MashaAlloh Tabarokalloh

Tinggalkan Komentar