Awesome Image

Sebuah Catatan Refleksi Penutup Tahun! 2025

Sebuah Catatan Refleksi Penutup Tahun!

 

Ketika Rumah Sakit Tidak Lagi Hanya Tempat Berobat, Tetapi Tempat Berharap

 

by. Igun Winarno

Ada suatu fase dalam perjalanan pengabdian ketika seseorang tidak lagi memandang gedung di pinggir jalan bertuliskan IGD dan RSUD Ajibarang hanya sebagai bangunan yang berisi area parkir, deretan tempat tidur pasien, ruang rawat jalan dengan keluhannya, bau obat-obatan yang menyengat, serta prosedur-prosedur yang kerap terasa kaku. Pada fase itu, rumah sakit mulai dipahami sebagai ruang kemanusiaan—tempat orang datang membawa rasa takut, merajut harapan, melangitkan doa, serta menitipkan air mata dan kepercayaan mereka kepada kita.

Pelayanan Manusiawi

Rumah sakit tidak lagi sekadar tempat berobat, tetapi menjadi ruang ikhtiar di mana hidup dipertaruhkan, harapan dirajut, dan kemanusiaan diuji setiap hari. Inilah amanah kehidupan yang menuntut keimanan dan keteguhan hati:

Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā wa ni‘man naṣīr, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh  Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung; tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.

Namun iman harus berjalan bersama ikhtiar. Kita berupaya menghadirkan lorong-lorong yang menyimpan kisah ketakutan, kesabaran, dan keberanian; kisah keluarga yang menggenggam tangan orang tercinta, serta tenaga kesehatan yang diam-diam belajar menjadi kuat di tengah rapuhnya kemanusiaan. Bekerja di rumah sakit tidak lagi hanya menjalankan profesi, tetapi memasuki ladang pengabdian—tempat setiap senyum, salam, dan sentuhan memiliki nilai yang mungkin tak tercatat dalam laporan, namun sangat menentukan rasa aman yang dirasakan pasien. Kita terus bertumbuh dengan wajah yang CERIA, senyum dalam salam, doa dalam sapa, dan keakraban persahabatan dalam jabat tangan.

Dalam pergeseran makna inilah paradigma rumah sakit bergerak—dari sekadar fasilitas pelayanan kesehatan menjadi ruang pemulihan yang manusiawi. Rumah sakit dipanggil untuk tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga memulihkan martabat, menenangkan batin, dan menumbuhkan kembali harapan di setiap sudut pelayanannya.

Di titik inilah peran Diklat menjadi jantung perubahan budaya, yang mengalirkan nilai, menumbuhkan kompetensi, serta membentuk karakter SDM agar CERIA, ramah, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan pasien. Perubahan sistem boleh dimulai dari kebijakan, tetapi perubahan peradaban pelayanan selalu bermula dari manusia yang dididik, dibina, dan disadarkan akan makna pengabdiannya.

Mimpi tentang RSUD Ajibarang bukanlah mimpi yang dibangun dari angka, laporan, atau target administratif semata, melainkan dari kerinduan untuk menghadirkan rumah sakit yang aman, nyaman, ramah, dan menyenangkan bagi setiap orang yang melangkah masuk ke dalamnya. Aman berarti pasien merasa terlindungi secara klinis dan emosional; nyaman berarti setiap sudut ruang menghadirkan rasa tenteram; ramah berarti setiap petugas menyapa dengan senyum, salam, dan kepedulian yang tulus; dan menyenangkan berarti suasana rumah sakit tidak lagi identik dengan ketegangan, tetapi dengan rasa diterima dan dimanusiakan.

RSUD Ajibarang diharapkan menjadi tempat di mana pasien dan keluarga tidak hanya memperoleh layanan medis, tetapi juga menemukan ketenangan, harapan, dan keyakinan bahwa mereka dirawat oleh manusia-manusia yang peduli.

Rumah sakit yang ingin kita hadirkan bukanlah tempat yang menakutkan, melainkan tempat yang menenangkan. Bukan ruang yang ingin segera ditinggalkan, tetapi ruang yang membuat pasien merasa aman untuk bertahan, nyaman untuk pulih, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya. Kita memimpikan rumah sakit yang ingin pasien tinggali, bukan ingin cepat ditinggalkan—karena di dalamnya hadir pelayanan yang profesional, lingkungan yang bersahabat, serta manusia-manusia yang bekerja dengan hati.

Di sanalah mimpi tentang pelayanan paripurna CERIA dengan 3S menemukan wujud nyatanya: bukan sekadar sebagai slogan, tetapi sebagai budaya yang hidup dalam setiap senyum, setiap sapa, dan setiap sentuhan pelayanan sehari-hari.

Tatapan pertama

Ingatlah, dalam setiap kunjungan pasien, yang pertama kali menyapa bukanlah dinding, peralatan, atau papan informasi, melainkan manusia. SDM adalah pengalaman pertama dan terakhir yang akan diingat pasien—dari tatapan di pintu masuk, cara menyapa di loket, hingga tutur kata saat mengantar pulang. Pada titik inilah kualitas rumah sakit sesungguhnya diuji, bukan semata oleh kecanggihan fasilitas, tetapi oleh sikap, empati, dan ketulusan orang-orang yang melayaninya. Pelayanan yang dimulai dari hati menjadikan setiap interaksi bukan sekadar transaksi, melainkan perjumpaan kemanusiaan yang menenangkan, menguatkan, dan menumbuhkan harapan.

Hospital Branding

SDM tidak hanya menjalankan tugas, tetapi membentuk citra, kepercayaan, dan loyalitas pasien terhadap rumah sakit. Satu senyum tulus dapat meredakan kecemasan, satu penjelasan sabar menumbuhkan rasa percaya, dan satu tindakan empatik mengikat kesetiaan jangka panjang. Di sinilah wajah sejati rumah sakit terbentukbukan dari megahnya gedung, melainkan dari manusia-manusia yang bekerja dengan hati, kompeten dalam keilmuan, dan konsisten dalam nilai. Ketika SDM bertumbuh, kepercayaan publik pun ikut bertumbuh, dan rumah sakit benar-benar menjadi tempat yang dirindukan, bukan dihindari.

Budaya Melayani

Budaya CERIA bukanlah rangkaian kata indah yang ditempel di dinding atau dicantumkan dalam dokumen mutu, melainkan DNA perilaku yang harus hidup dalam setiap interaksi pelayanan. CERIA—Cepat, Efisien, Ramah, Ikhlas, dan Aman—merupakan definisi karakter SDM yang diharapkan hadir di setiap titik layanan.

Cepat berarti tanggap terhadap kebutuhan pasien, Efisien berarti memberikan pelayanan tepat guna dan tepat waktu, Ramah berarti menghadirkan senyum dan sikap bersahabat, Ikhlas berarti melayani dengan ketulusan hati, dan Aman berarti menjaga keselamatan serta rasa aman pasien sebagai tanggung jawab moral dan profesional. Ketika CERIA menjadi kebiasaan, rumah sakit tidak lagi hanya efisien secara sistem, tetapi juga hangat secara kemanusiaan dan menenangkan bagi setiap pasien yang datang.

Kombinasi budaya CERIA dengan 3S (Senyum, Salam, dan Salaman) harus dipahami sebagai budaya perilaku yang berkelanjutan, bukan sebagai program temporer yang bergantung pada momentum atau pergantian kepemimpinan. Ia merupakan napas keseharian pelayanan—hidup dalam cara menyapa, cara mendengar, dan cara melayani—yang secara perlahan membentuk wajah sejati rumah sakit.

Budaya ini beririsan langsung dengan kepuasan pasien karena pasien merasa diperhatikan; dengan keselamatan pasien karena pelayanan yang cepat, efisien, ikhlas, dan aman menurunkan risiko kesalahan; serta dengan loyalitas pasien karena pengalaman baik akan selalu diingat dan diceritakan kembali. Dengan CERIA yang hidup dan 3S yang konsisten, RSUD Ajibarang tidak hanya dikenal sebagai rumah sakit yang kompeten, tetapi juga sebagai rumah sakit yang manusiawi, menenangkan, dan dipercaya.

Sebuah pengalaman

Senyum, salam, dan salaman (3S) adalah bentuk pelayanan paling sederhana, namun paling bermakna. Ia tidak membutuhkan teknologi canggih atau biaya besar, tetapi mampu membuka pintu rasa aman dan nyaman dalam diri pasien. Dalam satu senyum yang tulus, satu salam yang hangat, dan satu sentuhan salaman yang penuh hormat, tersimpan pesan bahwa pasien tidak sedang berhadapan dengan sistem, melainkan dengan manusia yang peduli. 3S menjadi bahasa cinta rumah sakit—bahasa yang mampu menenangkan bahkan sebelum obat diberikan.

Dampak psikologis 3S sangat nyata: kecemasan pasien berkurang, kepercayaan meningkat, dan kepatuhan terhadap terapi menjadi lebih baik karena pasien merasa dihargai dan dipahami. Dalam banyak hal, 3S bekerja layaknya “obat non-farmakologis” yang memperkuat proses penyembuhan. Ia tidak tertulis dalam resep, tetapi berperan besar dalam pemulihan. Ketika 3S menjadi budaya harian, maka rumah sakit tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga merawat rasa aman dan harapan.

Peran Diklat

Diklat dan Sistem pengembangan memegang peran strategis sebagai mesin utama perubahan budaya kerja di RSUD Ajibarang. Diklat tidak lagi diposisikan sekadar sebagai pemenuhan kewajiban administratif atau peningkatan kompetensi teknis, tetapi sebagai alat transformasi nilai, sikap, dan perilaku SDM. Setiap kelas, pelatihan, dan pembinaan diarahkan untuk menanamkan makna bahwa pelayanan dimulai dari hati, bahwa CERIA dan 3S bukanlah teori, melainkan cara bersikap yang harus hadir dalam praktik sehari-hari di setiap unit layanan.

Litbang berperan sebagai penjaga mutu dan kompas arah kebijakan berbasis data. Melalui koordinasi dengan komite-komite yang ada, pemantauan indikator mutu, survei kepuasan pasien, serta analisis tren pelayanan, Litbang memastikan bahwa setiap perubahan yang terjadi bukan hanya terasa, tetapi juga terukur.

Integrasi nilai CERIA, budaya 3S, patient safety, dan pelayanan paripurna dalam kurikulum internal menjadikan setiap proses pembelajaran sebagai ruang penanaman budaya—bukan sekadar transfer ilmu, tetapi proses pembentukan sikap, karakter, dan kesadaran pengabdian.

2025 sebuah akhir

Tahun ini menjadi cermin untuk melihat sejauh mana benih yang kita tanam mulai bertunas. Dukungan sarana dan prasarana yang semakin bersahabat turut menguatkan capaian diklat yang meningkat, perubahan perilaku SDM yang semakin ramah dan responsif, serta perbaikan indikator mutu dan kepuasan pasien. Semua ini menunjukkan bahwa arah perubahan telah berada di jalur yang benar. Kita mulai menyaksikan senyum yang lebih tulus, komunikasi yang lebih sabar, dan kepedulian yang lebih nyata dalam keseharian pelayanan.

Namun, di balik capaian tersebut, tantangan budaya tetap ada. Masih terdapat resistensi terhadap perubahan, keterbatasan sumber daya, serta inkonsistensi perilaku di beberapa titik layanan. Tantangan ini bukan untuk disesali, tetapi untuk dipelajari—sebagai pengingat bahwa perubahan budaya adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, keteladanan, dan konsistensi.

Menjadi Lebih Manusiawi, Lebih CERIA, Lebih Dicintai Pasien

Resolusi tahun depan diarahkan untuk memperkuat budaya layanan yang lebih manusiawi dan lebih CERIA, sehingga RSUD Ajibarang semakin dicintai pasien dan keluarga. Target budaya layanan tidak hanya difokuskan pada pencapaian indikator, tetapi pada penguatan perilaku ramah, empatik, dan amanah sebagai identitas kolektif rumah sakit.

Program prioritas Diklat dan Penelitian akan difokuskan pada pembentukan role model pimpinan, penguatan kurikulum budaya layanan, serta penyusunan roadmap RSUD Ajibarang sebagai rumah sakit yang menyenangkan. Roadmap ini menjadi peta jalan menuju rumah sakit yang tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga hangat secara kemanusiaan tempat pasien merasa aman, nyaman, dan dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Ronde evaluasi merupakan hal penting yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Kunjungan dan pemantauan langsung terhadap SDM menjadi sarana untuk memastikan bahwa pelayanan berjalan sebagaimana mestinya—apakah mereka telah bekerja sesuai nilai CERIA, apakah mereka merasa didukung, dan apakah mereka bekerja dalam suasana yang aman serta bahagia. Pemantauan ini tidak sekadar menilai, tetapi juga mendengar, memahami, dan menguatkan.

Melalui kunjungan langsung, komunikasi yang hangat, dan pendekatan yang bersahabat, pimpinan dapat membangun hubungan yang lebih manusiawi dengan SDM. Dari sinilah pelayanan yang lebih baik dilahirkan—dimulai dari pola kepemimpinan yang bersahabat, yang menumbuhkan rasa memiliki, meningkatkan semangat, dan memperkuat budaya melayani di seluruh lini pelayanan.

Akhirnya

Pada akhirnya, keberhasilan rumah sakit tidak semata diukur dari angka, laporan, atau sertifikat yang terpajang di dinding, tetapi dari satu hal yang paling sederhana dan paling bermakna: senyum pasien saat pulang. Di sanalah pesan moral dan spiritual pelayanan menemukan bentuknya. Setiap tindakan yang dilakukan dengan niat tulus, setiap senyum yang diberikan dengan empati, dan setiap keputusan yang diambil dengan amanah, sejatinya adalah ibadah—yang nilainya melampaui penilaian manusia dan menjadi catatan kebaikan di hadapan Tuhan.

Harapan terbesar kita tertuju kepada seluruh SDM RSUD Ajibarang agar terus menjaga ketulusan dalam melayani, menumbuhkan CERIA sebagai karakter, dan merawat 3S sebagai bahasa cinta rumah sakit. Karena rumah sakit yang hebat tidak lahir dari megahnya gedung atau canggihnya teknologi semata, tetapi dari manusia-manusia yang bekerja dengan hati. Dan bila suatu hari pasien pulang dengan senyum, merasa aman, dihargai, dan ingin kembali mempercayakan kesehatannya kepada kita, maka sesungguhnya pada saat itulah kita telah benar-benar menang.

Sebuah catatan dari

dr. Igun Winarno, Sp.An-TI, FISQua

Kepala Diklat dan Penelitian RSUD Ajibarang

 

 

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar